Muhdan Syarovy Logo

Pengaruh Cekaman Iklim terhadap Fase Perkembangan Bunga Kelapa Sawit di Berbagai Jenis Tanah

Penulis: Sukarman, Akhmad Rizalli Saidy, Gusti Rusmayadi, Dewi Erika Adriani, Septa Primananda, Suwardi, Rozita Jailani, Wai L. K., Cindy Diah Ayu Fitriana, Muhdan Syarovy, Iput Pradiko, Nuzul Hijri Darlan

Publikasi asli: IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 2025 · DOI: 10.1088/1755-1315/1463/1/012004

Ilustrasi bunga dan iklim

Bunga kelapa sawit bukan sekadar organ reproduksi yang muncul lalu mengering. Perjalanan dari primordia bunga hingga menjadi tandan buah siap panen memakan waktu hampir tiga tahun, dan selama rentang waktu yang panjang itu, tanaman kelapa sawit sangat rentan terhadap perubahan iklim. Cekaman iklim seperti kekeringan berkepanjangan, distribusi hujan yang tidak merata, dan kenaikan suhu dapat mengganggu fase-fase kritis perkembangan bunga, yang pada akhirnya menekan produksi tandan buah segar (TBS). Pertanyaannya, seberapa besar dampak cekaman iklim ini pada berbagai jenis tanah?

Penelitian ini menjawab pertanyaan tersebut dengan mengamati perkembangan bunga kelapa sawit di tiga jenis tanah yang dominan di perkebunan kelapa sawit Indonesia: Ultisols, Inceptisols, dan Spodosols, semuanya berlokasi di Kalimantan Tengah. Selama periode pengamatan, parameter iklim seperti curah hujan, jumlah hari hujan, dan suhu rata-rata dicatat dan dikorelasikan dengan fase perkembangan bunga yang meliputi inisiasi primordia bunga, diferensiasi seksual, pembentukan bunga jantan dan betina, hingga terserangnya bunga oleh kumbang penyerbuk (Elaeidobius kamerunicus).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa cekaman iklim, terutama defisit air yang berkepanjangan, secara signifikan memengaruhi rasio bunga betina terhadap bunga jantan. Di tanah Spodosols yang memiliki kapasitas menahan air rendah, dampak cekaman iklim terhadap perkembangan bunga betina jauh lebih parah dibanding di tanah Inceptisols. Pada saat yang sama, populasi kumbang penyerbuk juga menurun drastis selama periode kering, yang berarti persentase bunga yang berhasil diserbuki menjadi lebih rendah. Efek berantainya jelas: lebih sedikit buah yang terbentuk, lebih rendah produksi TBS per hektar.

Implikasi dari penelitian ini cukup strategis. Pertama, pemilihan jenis tanah untuk penanaman kelapa sawit tidak bisa dilakukan seragam, tanah dengan kapasitas menahan air rendah membutuhkan strategi mitigasi iklim yang lebih intensif, misalnya irigasi tambahan atau pemulsaan. Kedua, pemantauan iklim mikro kebun harus menjadi bagian dari manajemen operasional harian, bukan sekadar data pelengkap laporan tahunan. Ketiga, pemahaman tentang fase kritis perkembangan bunga memungkinkan pekebun untuk mengantisipasi periode rawan dan melakukan intervensi tepat waktu, seperti pemupukan pra-musim kemarau atau pengaturan irigasi saat transisi musim.

Yang menarik, penelitian ini juga menemukan bahwa waktu terjadinya cekaman iklim sama pentingnya dengan intensitasnya. Cekaman yang terjadi pada fase inisiasi primordia bunga (sekitar 24-30 bulan sebelum panen) berdampak lebih besar terhadap jumlah bunga betina yang terbentuk dibanding cekaman yang terjadi pada fase yang lebih lambat. Temuan ini menjadi dasar penting untuk mengembangkan sistem peringatan dini berbasis iklim yang bisa membantu pekebun mengambil keputusan antisipatif, bukan sekadar reaktif.


Referensi:
Sukarman, et al. (2025). Climate Stress Affects the Important Phases of Oil Palm Flower Development on Various Soil Types. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1463(1), 012004. DOI: 10.1088/1755-1315/1463/1/012004