Penulis: Fandi Hidayat, Muhdan Syarovy, Iput Pradiko, Suroso Rahutomo | Tahun: 2020 | DOI: https://doi.org/10.22302/iopri.jur.jpks.v28i1.107
Sub soil, lapisan tanah di bawah lapisan olah (topsoil), umumnya memiliki sifat fisik dan kimia yang jauh lebih buruk: strukturnya padat, kandungan bahan organiknya sangat rendah, dan ketersediaan haranya terbatas. Ketika topsoil yang berkualitas mulai langka atau mahal, penggunaan sub soil sebagai media pembibitan kelapa sawit menjadi alternatif yang perlu dikaji. Di sinilah peran kotoran sapi sebagai bahan organik yang mudah didapat dan murah menjadi sangat relevan.
Penelitian ini mengevaluasi pengaruh berbagai dosis kotoran sapi yang telah dikomposkan terhadap sifat kimia sub soil dan pertumbuhan bibit kelapa sawit selama fase pre-nursery dan main nursery. Parameter tanah yang diamati meliputi pH, kapasitas tukar kation (KTK), kandungan bahan organik, dan ketersediaan hara makro (N, P, K, Ca, Mg). Parameter pertumbuhan bibit mencakup tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot segar dan kering tajuk serta akar.

Hasil menunjukkan bahwa aplikasi kotoran sapi secara nyata memperbaiki sifat kimia sub soil. pH yang cenderung rendah pada sub soil meningkat mendekati kisaran optimal bagi kelapa sawit (5,5–6,5) dengan penambahan kotoran sapi. KTK meningkat signifikan, diikuti oleh peningkatan ketersediaan berbagai unsur hara. Pertumbuhan bibit pada media sub soil yang diperkaya kotoran sapi pada dosis optimal tidak berbeda nyata dengan bibit yang ditanam di topsoil murni, sebuah temuan yang sangat menjanjikan dari segi praktis.
Berikut ringkasan faktor-faktor yang diteliti beserta peran dan tingkat pengaruhnya.
| Faktor | Peran dalam Penelitian | Kondisi / Konteks | Tingkat Pengaruh | Temuan Spesifik |
|---|---|---|---|---|
| Kotoran Sapi (Kompos Matang) | Bahan organik murah dan mudah didapat yang secara nyata memperbaiki sifat kimia sub soil | Berbagai dosis diaplikasikan pada sub soil sebagai media pembibitan pre-nursery dan main nursery | Sangat Tinggi | Temuan kunci: pertumbuhan bibit pada sub soil + kotoran sapi dosis optimal tidak berbeda nyata dengan bibit di topsoil murni, solusi praktis saat topsoil langka atau mahal |
| pH Sub Soil | Hambatan kimia utama sub soil yang berhasil diperbaiki, pH rendah sub soil menyebabkan hara tidak tersedia bagi tanaman | pH sub soil meningkat mendekati kisaran optimal sawit (5,5–6,5) dengan penambahan kotoran sapi | Sangat Tinggi | pH rendah di sub soil adalah hambatan paling kritis: menyebabkan Al dan Fe terlarut menjadi racun, serta membuat sebagian besar hara terikat dalam bentuk tidak tersedia |
| Kapasitas Tukar Kation (KTK) | Kemampuan tanah menyimpan dan menyediakan ion hara bagi tanaman, meningkat signifikan pasca pemberian kotoran sapi | Diikuti oleh peningkatan ketersediaan N, P, K, Ca, dan Mg secara bersamaan | Signifikan | KTK yang lebih tinggi berarti hara dari pupuk yang diberikan tidak mudah tercuci, efisiensi pemupukan meningkat secara otomatis |
| Siklus Hara Terpadu | Konsep manajemen yang lebih luas: integrasi peternakan sapi kecil dengan pembibitan untuk siklus hara yang menguntungkan | Di daerah dengan peternakan sapi atau akses ke pasar ternak lokal | Signifikan | Kotoran sapi untuk media bibit, limbah pembibitan untuk pakan/kompos, siklus yang mengurangi biaya input sekaligus meningkatkan keberlanjutan usaha |
| Ketersediaan Hara Makro (N, P, K) | Unsur hara utama yang ketersediaannya meningkat nyata di sub soil yang diperkaya kotoran sapi | Diukur bersama Ca dan Mg sebagai indikator kesuburan kimia media yang komprehensif | Terbatas | Peningkatan hara makro berkorelasi langsung dengan peningkatan pertumbuhan bibit, mengkonfirmasi bahwa keterbatasan hara adalah hambatan utama sub soil sebagai media |
Temuan ini memberikan solusi praktis bagi pengelola pembibitan, terutama di daerah yang sulit mendapatkan topsoil berkualitas. Integrasi peternakan sapi kecil di dalam atau dekat areal pembibitan bahkan dapat menciptakan siklus hara yang menguntungkan, kotoran sapi dimanfaatkan untuk pembibitan, sementara limbah pembibitan dapat dijadikan pakan tambahan atau kompos.
Ada pertanyaan tentang penelitian ini atau pengalaman serupa di kebun Anda? Tulis di kolom komentar, kami senang berdiskusi.
Daftar Istilah
- Pre-nursery
- Tahap awal pembibitan kelapa sawit, biasanya berlangsung 3 bulan pertama setelah kecambah. Bibit ditanam dalam polybag kecil sebelum dipindah ke main nursery.
- Main Nursery
- Tahap pembibitan kelapa sawit setelah pre-nursery, berlangsung hingga bibit siap tanam (9–12 bulan). Bibit ditanam dalam polybag besar dan dirawat intensif sebelum ditanam di lapangan.
Sumber
Hidayat, F., Syarovy, M., Pradiko, I., Rahutomo, & S. (2020). Aplikasi Kotoran Sapi untuk Perbaikan Sifat Kimia Tanah dan Pertumbuhan Vegetatif Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) pada Media Sub Soil. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit. https://doi.org/10.22302/iopri.jur.jpks.v28i1.107


Leave a Reply