Muhdan Syarovy Logo

Dampak Kekeringan dan Kabut Asap terhadap Ekofisiologi dan Produktivitas Kelapa Sawit di Sumatera Selatan

Penulis: Muhdan Syarovy, Iput Pradiko, Eka Listia, Nuzul Hijri Darlan, Fandi Hidayat, Winarna Winarna, Suroso Rahutomo | Tahun: 2017 | DOI: https://doi.org/10.22302/iopri.jur.jpks.v25i3.31


Tahun 2015 akan lama diingat oleh industri kelapa sawit Indonesia sebagai tahun bencana ganda: kemarau panjang yang dipicu El Niño dan bencana kebakaran lahan yang menghasilkan kabut asap (haze) tebal selama berbulan-bulan. Kedua fenomena ini, yang sering terjadi bersamaan, memberikan tekanan cekaman yang belum pernah didokumentasikan secara ilmiah dengan baik sebelumnya pada perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan. Penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut.

Tim peneliti mengukur berbagai parameter ekofisiologi kelapa sawit selama dan setelah periode kemarau-kabut asap: laju fotosintesis, konduktansi stomata, efisiensi penggunaan air (water use efficiency), suhu kanopi, serta kandungan pigmen fotosintesis daun. Data ini kemudian dikorelasikan dengan catatan produksi TBS aktual selama periode yang sama dan beberapa bulan setelahnya, mengingat bahwa efek cekaman pada produksi sawit sering tertunda (lag effect) hingga 6–18 bulan.

Ilustrasi perkebunan kelapa sawit

Hasil penelitian mengungkap betapa dalamnya dampak ganda ini. Kekeringan memicu penutupan stomata yang drastis dan penurunan laju fotosintesis yang signifikan, respons adaptif tanaman untuk mengurangi kehilangan air, namun dengan konsekuensi berkurangnya asimilasi karbon untuk pertumbuhan dan produksi buah. Kabut asap menambah dimensi lain: meski intensitas cahaya matahari berkurang akibat partikel asap, sebagian penelitian menunjukkan bahwa diffuse light yang meningkat akibat hamburan asap justru dapat menembus lebih dalam ke kanopi, efek yang saling mengkompensasi secara parsial.

Berikut ringkasan faktor-faktor yang diteliti beserta peran dan tingkat pengaruhnya.

FaktorPeran dalam PenelitianKondisi / KonteksTingkat PengaruhTemuan Spesifik
Cekaman Kekeringan El Niño 2015Faktor cekaman utama yang memicu respons fisiologis adaptif tanaman dengan konsekuensi serius pada produksiKemarau panjang El Niño melanda perkebunan di Sumatera Selatan tahun 2015Sangat TinggiPenutupan stomata drastis mengurangi transpirasi (adaptasi bertahan hidup) tetapi sekaligus mengurangi masuknya CO₂, asimilasi karbon untuk buah berkurang secara signifikan
Kabut Asap (Haze) KebakaranCekaman tambahan yang memperparah kondisi: partikel asap mengurangi intensitas radiasi matahari yang diterima kanopiKebakaran lahan gambut dan hutan skala besar di Sumatera Selatan 2015 menghasilkan haze berbulan-bulanSangat TinggiEfek parsial: diffuse light dari hamburan asap bisa menembus lebih dalam ke kanopi. Namun secara keseluruhan, kombinasi kekeringan + haze adalah cekaman ganda yang berlipat
Lag Effect pada Produksi TBSFenomena tertunda yang kritis untuk proyeksi: efek kekeringan baru terasa pada produksi 6–18 bulan kemudianPenurunan produksi TBS yang signifikan terekam hingga 1,5 tahun setelah puncak kemarau dan hazeSignifikanLag effect ini harus diperhitungkan dalam proyeksi produksi tahunan dan perencanaan keuangan, kemarau tahun ini berdampak pada produksi dua musim berikutnya
Efisiensi Penggunaan Air (WUE)Indikator seberapa efisien tanaman mengkonversi air yang diserap menjadi biomassa dan produksi buahDiukur selama dan setelah periode cekaman untuk memahami mekanisme adaptasi tanamanSignifikanData WUE membantu mengidentifikasi varietas yang lebih efisien dalam penggunaan air, relevan untuk seleksi varietas di era perubahan iklim
Sistem Irigasi SuplementerRekomendasi investasi utama dari penelitian: mitigasi aktif terhadap cekaman kekeringan di lahan gambutManajemen groundwater table di lahan gambut menjadi kunci di era perubahan iklim yang semakin ekstremTerbatasPerkebunan yang memiliki sistem irigasi dan manajemen water table yang baik terbukti lebih resilient terhadap dampak El Niño dibanding kebun tanpa infrastruktur air

Penurunan produksi TBS yang signifikan terekam hingga satu setengah tahun setelah puncak kemarau dan haze, mengkonfirmasi adanya efek tertunda yang harus diperhitungkan dalam proyeksi produksi. Temuan ini penting untuk perencanaan mitigasi: sistem irigasi suplementer dan manajemen groundwater table di lahan gambut menjadi investasi yang semakin penting di era perubahan iklim.

Ada pertanyaan tentang penelitian ini atau pengalaman serupa di kebun Anda? Tulis di kolom komentar, kami senang berdiskusi.

Daftar Istilah

Tandan Buah Segar (TBS)
Satuan hasil panen kelapa sawit berupa tandan lengkap dengan buah yang belum diolah. TBS adalah ukuran utama produktivitas perkebunan sawit.
Tanah Gambut
Jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi bahan organik yang belum terdekomposisi sempurna. Memiliki kandungan air tinggi tapi rentan mengalami subsidensi dan hidrofobisitas saat kering.
Fotosintesis
Proses tanaman mengubah cahaya matahari, air, dan CO₂ menjadi gula (energi) dan oksigen. Laju fotosintesis mencerminkan seberapa aktif tanaman tumbuh dan berproduksi.
Stomata
Pori-pori kecil di permukaan daun yang mengatur keluar-masuknya gas dan uap air. Saat stomata terbuka, tanaman menyerap CO₂ untuk fotosintesis sekaligus kehilangan air.
Konduktansi Stomata
Ukuran seberapa lebar stomata (pori daun) terbuka. Semakin tinggi nilainya, semakin banyak uap air keluar dan CO₂ masuk ke dalam daun.

Sumber

Syarovy, M., Pradiko, I., Listia, E., Darlan, N. H., Hidayat, F., Winarna, W., Rahutomo, & S. (2017). Drought And Haze Effects On Oil Palm Ecophysiology And Productivity In South Sumatra. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit. https://doi.org/10.22302/iopri.jur.jpks.v25i3.31


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *