Penulis: Edy Sigit Sutarta, Eko Novandy Ginting, Muhdan Syarovy, Eka Listia | Tahun: 2021 | DOI: http://dx.doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v26i2.55
Pemupukan dengan sistem benam (pocket system), menempatkan pupuk di dalam lubang yang dibuat di tanah dekat piringan pohon, telah terbukti lebih efisien dibandingkan metode tabur (broadcast) dalam mengurangi kehilangan pupuk akibat aliran permukaan dan penguapan. Namun, implementasinya di lapangan memunculkan pertanyaan praktis yang penting: apakah lebih baik menggunakan alat manual sederhana atau menggunakan mesin khusus untuk membuat lubang? Penelitian ini menjawab pertanyaan tersebut dengan pendekatan yang komprehensif.
Tim peneliti mengevaluasi beberapa jenis alat pembuat lubang, mulai dari linggis dan bor tangan konvensional hingga bor bertenaga mesin (power auger), pada berbagai kondisi tanah di perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara. Parameter yang diukur mencakup kecepatan pembuatan lubang, kedalaman dan diameter yang dihasilkan, konsumsi tenaga kerja (HK/pohon), biaya operasional, serta kenyamanan dan keamanan bagi operator.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa alat bertenaga mesin unggul secara signifikan dalam hal kecepatan dan konsistensi dimensi lubang, terutama pada tanah yang padat atau berbatu. Produktivitas operator dengan power auger bisa mencapai 3–4 kali lipat dibandingkan menggunakan alat manual. Namun, keunggulan ini harus dipertimbangkan terhadap biaya investasi alat, biaya bahan bakar, dan kebutuhan perawatan rutin. Pada kondisi tanah yang relatif gembur dan kebun dengan aksesibilitas terbatas, alat manual masih dapat menjadi pilihan yang lebih ekonomis.
Analisis biaya-manfaat menunjukkan bahwa penggunaan alat mesin lebih menguntungkan secara ekonomi di kebun skala besar yang menerapkan pemupukan benam secara konsisten. Bagi perusahaan perkebunan, keputusan investasi alat ini perlu mempertimbangkan luas kebun, kondisi tanah dominan, dan ketersediaan tenaga kerja terampil.


Leave a Reply