Muhdan Syarovy Logo

Pengaruh Tingkat Kemasakan terhadap Viabilitas Benih Tanaman Rosela (Hibiscus sabdariffa L.)

Bunga rosela (Hibiscus sabdariffa)

Penulis: Muhdan Syarovy, Haryati, Ferry Ezra Sitepu | Tahun: 2013 | DOI: https://www.neliti.com/publications/95106/


Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) adalah tanaman yang kaya manfaat, kelopak bunganya yang merah menyala telah lama dimanfaatkan sebagai bahan minuman kesehatan, pewarna alami, dan obat tradisional. Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap rosela meningkat pesat seiring dengan tren konsumsi produk herbal dan minuman fungsional. Namun seperti tanaman budidaya lainnya, keberhasilan pengembangan rosela sangat bergantung pada kualitas benih, dan kualitas benih erat kaitannya dengan tingkat kemasakan saat benih dipanen.

Penelitian ini mengkaji bagaimana tingkat kemasakan buah rosela saat panen memengaruhi viabilitas benih, kemampuan benih untuk berkecambah dan tumbuh menjadi bibit yang sehat. Benih dipanen pada beberapa stadia kemasakan yang berbeda, mulai dari fisiologis muda hingga lewat masak, kemudian diuji viabilitasnya menggunakan serangkaian uji standar: daya kecambah, kecepatan kecambah (germination rate), dan indeks vigor. Kadar air benih pada setiap stadia juga diukur karena berkaitan erat dengan ketahanan simpan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemasakan berpengaruh nyata terhadap semua parameter viabilitas yang diuji. Benih yang dipanen pada kemasakan fisiologis penuh, yang ditandai dengan perubahan warna tertentu pada buah dan biji, memberikan daya kecambah dan vigor tertinggi. Benih yang dipanen terlalu awal memiliki cadangan makanan yang belum sempurna terakumulasi, sementara benih yang dibiarkan terlalu masak mengalami penurunan viabilitas akibat proses deteriorasi alami.

Temuan ini memiliki nilai praktis yang langsung bagi petani dan produsen benih rosela. Panduan panen yang tepat berdasarkan indikator kemasakan yang mudah diamati secara visual dapat meningkatkan kualitas benih secara signifikan, mengurangi persentase benih yang tidak berkecambah, dan pada akhirnya meningkatkan efisiensi produksi bibit.


📄 Baca artikel lengkap

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *