Muhdan Syarovy Logo

Teknik Mounding Meningkatkan Performa Fisiologis dan Produksi Kelapa Sawit di Tanah Spodosol

Penulis: Suwardi, Lilik Sutiarso, Herry Wirianata, Andri Prima Nugroho, Iput Pradiko, Eko Noviandi Ginting, Nuzul Hijri Darlan, Muhdan Syarovy, Septa Primananda, Sukarman

Publikasi asli: Sains Tanah, Journal of Soil Science and Agroclimatology, 2022 · DOI: 10.20961/stjssa.v19i2.65460

Ilustrasi perkebunan kelapa sawit

Tanah Spodosol, sering disebut tanah pasir putih atau tanah podsol, adalah salah satu tantangan terbesar dalam budidaya kelapa sawit di Indonesia. Tanah ini dicirikan oleh tekstur pasir yang dominan, kapasitas menahan air yang sangat rendah, kemasaman tinggi, dan kesuburan alami yang minim. Di Kalimantan Tengah, ribuan hektar kelapa sawit ditanam di tanah Spodosol, dan produktivitasnya seringkali jauh di bawah potensi genetik tanaman. Namun, sebuah penelitian kolaboratif antara Indonesian Oil Palm Research Institute, Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Stiper, dan Wilmar International menemukan bahwa teknik mounding, pembuatan gundukan tanah di sekitar pangkal batang, bisa menjadi solusi yang efektif dan ekonomis.

Penelitian dilakukan di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah dengan membandingkan dua perlakuan: tanaman dengan teknik mounding dan tanaman tanpa mounding (kontrol). Parameter yang diamati meliputi sifat fisik dan kimia tanah di zona perakaran, serapan hara nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), status hara daun, serta produksi TBS selama dua tahun. Teknik mounding yang diterapkan berupa gundukan setinggi sekitar 30-40 cm dengan diameter 2-3 meter di sekeliling pangkal batang, menggunakan tanah dari sela barisan tanaman yang dicampur dengan bahan organik.

Hasilnya sangat signifikan. Pada tanaman dengan mounding, kadar lengas tanah di zona perakaran meningkat hingga 25 persen lebih tinggi dibanding kontrol. Suhu tanah maksimum harian juga menurun sekitar 2-3°C, artinya akar tanaman tidak mengalami heat stress yang ekstrem pada siang hari. Serapan hara N, P, dan K meningkat secara nyata, yang tercermin dari status hara daun yang lebih baik. Dampaknya pada produksi? Tanaman dengan mounding menghasilkan TBS 30-40 persen lebih tinggi dalam dua tahun pengamatan. Bagi pekebun, ini berarti tambahan pendapatan yang cukup besar tanpa harus melakukan investasi mahal seperti pembuatan drainase bawah permukaan atau irigasi tetes.

Keunggulan lain dari teknik mounding adalah kemudahan penerapannya. Tidak diperlukan alat berat atau bahan khusus, cukup tenaga kerja terlatih dan ketersediaan bahan organik di sekitar kebun. Biaya pembuatan gundungan diperkirakan hanya sekitar 10-15 persen dari biaya pembukaan lahan awal, namun manfaatnya bisa dirasakan selama bertahun-tahun. Teknik ini juga bersifat reversible, jika suatu saat lahan akan direplanting, gundukan bisa diratakan kembali tanpa meninggalkan dampak negatif jangka panjang pada struktur tanah.

Tentu efektivitas teknik mounding sangat bergantung pada desain yang tepat, tinggi dan lebar gundukan, jenis bahan organik yang dicampurkan, serta frekuensi perawatannya. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengoptimalkan parameter-parameter ini pada berbagai kondisi tanah dan iklim. Namun yang jelas, bagi perkebunan kelapa sawit yang berjuang melawan keterbatasan tanah Spodosol, teknik mounding menawarkan secercah harapan yang praktis dan terjangkau.


Referensi:
Suwardi, et al. (2022). Mounding technique improves physiological performance and yield of oil palm on Spodosols. Sains Tanah, Journal of Soil Science and Agroclimatology, 19(2), 169-179. DOI: 10.20961/stjssa.v19i2.65460